Urutan Saluran Pencernaan Ruminansia dan Penjelasannya

Diposting pada
2.5/5 - (2 votes)

Macam Urutan Sistem Pencernaan Ruminansia
Sistem pencernaan yang ada pada ruminansia tidak jauh berbeda dari sistem pencernaan pada manusia. Urutan dari saluran pencernaan hewan ruminansia mulai dari organ mulut yang menjadi bagian tubuh utama yang menerima makanan, lalu hingga organ terakhir yang membuang sisa-sisa makanan yang tidak lagi dibutuhkan yaitu organ anus.

Pencernaan Ruminansia

Hewan ruminansia adalah kumpulan hewan memamah biak yang menjadikan tumbuhan sebagai sumber makanannya. Hewan ini disebut juga dengan herbivora, umumnya berasal dari hewan mamalia yang tumbuh di darat.

Hewan ruminansia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu grazer atau pemakan rumput, misalnya kerbau, sapi, dan biri-biri. Yang kedua adalah browser pemakan ranting dan semak-semak, contohnya yaitu rusa. Terakhir adalah gabungan dari keduanya, yaitu pemakan rumput, ranting, dan semak-semak, contohnya kambing.

Menurut sistem pencernaan hewan, ruminansia memiliki sistem pencernaan yang unik, yaitu memiliki empat bagian perut (lambung). Keempat perut tersebut diantaranya perut besar, perut jala, perut buku, dan perut masam. Masing-masing perut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Urutan Saluran Pencernaan Ruminansia

Urutan saluran pencernaan dimulai dari organ mulut, esophagus, rumen, retikulum, mulut, omasum, abomasum, usus, rektum, hingga anus. Makanan akan dicerna oleh mulut sebanyak dua kali pada hewan ruminansia. Perilaku ini merupakan salah satu ciri khas dari hewan tersebut.

Berikut penjelasan dari urutan saluran pencernaan pada hewan ruminansia. Antara lain;

  1. Mulut (Cavum oris)

Rongga mulut yang ada pada ruminansia terdiri dari tiga atap yaitu langit-langti keras (platum durum), langit-langit lunak (platum mole), dan langit-langit tepi (velum palastini). Sementara itu, dasar rongga mulut bertekstur lunak. Di dalam rongga mulut terdapat beberapa asesori yang membantu dalam mencerna makanan, yaitu gigi dan lidah. Selain itu, pencernaan pada rongga mulut dibantu oleh enzim yang berada pada kelenjar saliva (ludah).

Makanan dicacah pada rongga mulut dengan bantuan gigi dan lidah. Pada hewan ruminansia gigi taring tidak ditemukan gigi taring karena gigi taring tidak sesuai dengan adaptasi dari hewan ini. Lidah berfungsi untuk memindahkan fungsi makanan ketika makan.

Makanan akan diubah menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih halus pada rongga mulut menggunakan gigi. Gigi geraham molar berfungsi untuk menggiling makanan dan menggilas dinding sel tumbuhan yang didalamnya mengandung zat selulosa. Sementara itu, gigi seri berperan memotong dan menjepit makanan yang akan dimakan.

  1. Kerongkongan (Esophagus)

Sebelum menuju ke kerongkongan,  makanan yang telah dicerna oleh mulut melewati faring. Faring merupakan saluran pencernaan yang ada pada tenggorokan. Tidak terdapat perubahan bentuk makanan ketika menuju kerongkongan.

Begitu pula ketika masuk ke kerongkongan, makanan tidak dicerna menjadi bagian lain yang lebih kecil. Melainkan langsung diteruskan ke lambung atau perut. Hal ini disebabkan karena adanya kelenjar sekretoris yang membuat bentuk makanan tidak berubah.

  1. Perut Besar (Rumen)

Perut adalah lambung pada hewan ruminansia. Lambung pada hewan ini menjadi karakteristik utama dari hewan ruminansia karena terdiri dari empat bagian. Makhluk hidup atau organisme yang memiliki satu lambung disebut dengan monogastrik, sementara itu organisme seperti hewan ruminansia disebut dengan hewan poligastrik. Atau perut banyak.

Perut besar adalah bagian pertama yang ada pada lambung ruminansia. Makanan yang diterima oleh rumen berupa bolus (makanan yang sudah tercacah). Fungsi dari lambung pada ruminansia utamanya adalah sebagai tempat penyimpanan sementara.

Di dalam rumen makanan mengalami fermentasi yang dibantu oleh bakteri selulase. Hubungan dengan bakteri tersebut merupakan simbiosis yang terjadi pada hewan memamah biak di dalam tubuhnnya. Hasilnya selulosa akan diubah menjadi gula (glukosa) atau asam organik dan metana.

  1. Perut Jala (Retikulum)

Bagian lambung yang kedua pada hewan ruminansia adalah perut jala. Di dalam perut jala makanan akan dibentuk menjadi gumpalan yang kasar. Proses ini dibantu oleh enzim yang terdapat pada perut jala.

Perut jala yang juga disebut dengan retikulum memiliki banyak otot yang ketika berkontraksi akan membantu proses pencernaan makanan. Ketika makanan sudah dalam bentuk bolus (gumpalan-gumpalan kasar), makanan akan naik ke bagian rongga mulut untuk kembali dicerna menjadi bagian yang lebih halus. Proses ini terjadi ketika hewan sudah cukup makan dan siap mencerna untuk kedua kalinya.

  1. Kembali ke Mulut

Di dalam mulut, makanan yang menyerupai gumpalan-gumpalan kasar akan dikunyah untuk kedua kalinya. Kunyahan ini diperlukan agar bentuk makanan lebih halus daripada sebelumnya. Ketika selesai, makanan akan kembali ke bagian lambung terakhir bolus-bolus diproduksi yaitu retikulum. Setelah itu, barulah makanan akan melanjutkan perjalanannya menuju bagian lambung lain.

  1. Perut Buku (Omasum)

Perut buku adalah bagian ketiga dari organ lambung hewan memamah biak. Perut ini akan menerima makanan yang telah selesai dikunyah oleh rongga mulut untuk kedua kalinya. Setelah dikunyah menjadi bagian yang lebih halus pada mulut, di dalam perut buku makanan kembali dicerna sehingga menghasilkan bentuk yang lebih halus dari sebelumnya.

Selain itu di dalam perut buku juga terjadi proses penyerapan kembali atau disebut juga dengan reabsorpsi. Proses ini memungkinkan zat-zat nutrisi yang terkandung dalam makanan tersalurkan dengan baik ke seluruh bagian tubuh. Kandungan yang penting dibutuhkan oleh tubuh salah satunya adalah air dan mineral. Jika proses reabsorpsi sudah selesai, kadar air yang terdapat pada makanan akan berkurang.

  1. Perut Masam (Abomasum)

Abomasum merupakan nama latin dari perut masam, perut ini juga merupakan bagian terakhir yang ada pada lambung hewan ruminansia. Perut masam menerima makanan dari perut buku yang telah mengalami pengurangan kadar air. Perut ini juga disebut dengan perut sesungguhnya.

Di dalam abomasum terjadi proses sekresi asam dan enzim pencernaan yang digunakan untuk mencerna. Hasil dari proses pencernaan pada perut masam adalah bubur yang disebut juga dengan kim. Bentuk inilah yang selanjutnya akan diteruskan ke organ pencernaan setelah perut masam yaitu usus halus.

  1. Usus Halus

Seperti halnya pada manusia, usus hewan ruminansia juga terdiri dari usus halus (kecil) dan usus besar. Makanan akan melewati usus halus terlebih dahulu sebelum menuju ke usus besar. Usus halus hewan ruminansia terdiri dari usus dua belas jari (duodenum) dan usus kosong (jejunum). Sementara itu, usus besar terdiri dari usus buntu (sekum) dan kolon.

Di dalam usus halus, makanan yang sudah sempurna dicerna oleh organ lambung akan diserap nutrisinya dan diedarkan ke seluruh tubuh. Pada proses ini, kandungan makanan akan menghasilkan energi yang dapat digunakan bagi hewan ruminansia untuk beraktivitas.

  1. Usus Besar

Beberapa zat makanan lain yang tidak lagi dibutuhkan di dalam tubuh akan diteruskan ke usus besar. Pada usus besar makanan ini akan disimpan sementara hingga waktu yang tidak ditentukan. Setelah itu diteruskan ke bagian paling akhir pada usus besar yaitu rektum.

  1. Rektum

Rektum juga merupakan bagian dari usus besar. Rektum terdapat di bagian ujung yang juga merupakan bagian akhir pada usus besar. Rektum memiliki fungsi sebagai tempat sementara sisa-sisa makanan disimpan sebelum dibuang ke luar tubuh.

Pada rektum, makanan sudah berbentuk limbah yang membusuk oleh bantuan bakteri baik yang ada di dalam usus. Sisa makanan ini sudah tidak lagi diperlukan dan disebut juga sebagai feses. Selanjutnya feses akan menuju saluran terakhir pada pencernaan hewan ruminansia yaitu anus.

  1. Anus

Sebagaimana mestinya dalam sistem pencernaan, sudah tentu ada makanan yang masuk ke dalam tubuh dan ada sisa makanan yang keluar dari dalam tubuh. Proses ini menandakan bahwa makhluk tersebut adalah makhluk hidup. Melalui metabolisme tertentu yang terjadi pada saluran pencernaan, makanan bersifat berguna dan tidak berguna dalam satu waktu.

Makanan yang berguna akan diserap oleh tubuh, dan sisa makanan yang tidak berguna akan dibuang. Sebab jika tetap ada di dalam tubuh akan membahayakan. Sisa makanan yang dibuang melewati saluran terakhir pencernaan pada ruminansia yaitu anus.

Feses mengandung zat-zat yang bukan hanya tidak lagi berguna bagi tubuh, bahkan dapat merugikan tubuh. Zat tersebut dapat berupa racun atau gas-gas tertentu yang berbahaya bagi tubuh. Proses pengeluaran sisa makanan melalui anus dalam istilah arti biologi disebut digesti (pengeluran).

Itulah tadi artikel yang bisa kami berikan pada segenap pembaca berkenaan dengan urutan saluran pencernaan ruminansia dan penjelasan lengkapnya. Semoga bisa memberikan edukasi, referensi, serta edukasi bagi kalian yang membutuhkannya.

Referensi Tulisan

Sigit Satria R, dkk. “Sistem Pencernaan Hewan Ruminansia”. Slideserve.com, 9 September 2014, https://www.slideserve.com/toki/sistem-pencernaan-hewan-ruminansia/

Gambar Gravatar
Niken Triana Putri adalah Salah satu Mahasiswi Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam di Kampus Islam Negeri yang ada di Jakarta. Saat ini selain menyelsaikan tugas akhir juga sibuk menulis di website gurusains.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *