Contoh Peristiwa Penyusutan dan Pemuaian

Diposting pada

Contoh Penyusutan dan Pemuaian

Hakekatnya, penyusutan dan pemuaian ada sitilah yang berbeda akan tetapi dapat terjadi pada satu benda yang sama. Namun proses terjadinya berbeda, hal ini bergantung pada perubahan dalam arti suhu lingkungan sekitar. Oleh karena itulah baik pemuaian atau penyusutan dipengaruhi suhu atau temperatur yang berubah. Oleh karena itulah sebagai bahasan lebih lanjut artikel ini mengulas peristiwa yang terjadi karena penyusutan dan pemuaian.

Penyusutan dan Pemuaian

Istilah penyusutan adalah peristiwa saat suatu benda mengalami pengurangan ukuran. Ukuran yang berkurang diakibatkan perubahan suhu, yaitu suhu panas ke suhu dingin. Penyusutan terjadi pada berbagai macam wujud dalam klasifikasi benda. Penyusutan terjadi pada suhu atau temperatur yang rendah.

Sedangkan, arti pemuaian adalah peristiwa suatu benda yang mengalami penambahan atau berkembang akibat pengaruh perubahan suhu. Berkebalikan dengan penyusutan, pemuaian terjadi karena perubahan suhu yang rendah ke suhu yang tinggi.

Contoh Peristiwa Penyusutan dan Pemuaian

Beberapa contoh nyata yang ada dalam peristiwa penyusutan dan pemuaian, antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Rel Kereta Api

Kereta api memiliki jalur khusus untuk dapat berjalan, yaitu dengan rel kereta. Rel kereta terbuat dari logam besi yang tebal dan panjang. Namun jika diperhatikan, lintasan kereta api tidak hanya disusun dari satu buah logam yang panjang saja.

Setiap logam terdiri dari beberapa sambungan. Sambungan tersebut tidak tersusun rapat satu sama lain. sebab logam memiliki sifat yang memuai pada suhu tinggi atau panas. Apabila logam rel disusun dengan rapat, maka pada siang hari logam tidak lagi memiliki ruang untuk memuai. Akibatnya rel akan bengkok atau patah.

Kondisi rel kereta api yang memuai hanya terjadi pada siang hari. Sementara pada malam hari rel kereta api kembali ke ukuran semula. Peristiwa ini disebut penyusutan. Pernyusutan terjadi ketika suhu lingkungan tidak lagi panas. Saat suhu menurun ukuran rel logam yang tadinya memanjang mulai menyusut seperti sebelumnya.

  1. Kaca Jendela

Kaca jendela atau kaca-kaca gedung lainnya saat dipasang ke dalam rangka yang dapat berupa kayu atau besi, tidak dipasang dalam keadaan yang pas. Terdapat sedikit ruang pada kaca. Hal ini dilakukan, karena kaca juga memiliki sifat memuai.

Ketika kaca terkena sinar matahari, maka suhu di sekitar lingkungannya akan berubah menjadi lebih tinggi atau panas. Pada kondisi tersebut ukuran kaca bertambah dan posisinya menjadi pas dengan rangka atau bingkai pada kaca. Apabila kaca ditempatkan sesuai dengan ukuran rangka atau bingkainya, pada suhu panas kaca akan pecah karena tidak memiliki ruang untuk memuai.

Selain peristiwa pemuaian, kaca juga mengalami penyusutan pada malam hari. Karena tidak lagi terkena sinar matahari, suhu akan berubah dari tinggi ke rendah. Temperatur sekitar yang lebih dingin dari sebelumnya akan menyebabkan kaca menyusut.

Penyusutan ini menyebabkan ukuran kaca kembali berkurang. Artinya kembali terbentuk ruang untuk kaca memuai pada pergantian hari.

  1. Kabel Listrik dan Kawat Telepon

Kabel listrik dan kawat telepon dapat banyak ditemukan di sekitar jalanan. Jika diperhatikan, bentuk dari kabel listrik melengkung ke bawah disetiap dua tiang yang meghubungkannya. Bukan tanpa alasan, kawat listrik yang terdapat di dalam kabel memilki sifat memuai pada kondisi panas.

Lokasinya yang berada cukup tinggi memungkinkan sinar matahari langsung menembus kawat yang ada di dalam kabel. Pada kondisi ini, ukuran kawat akan berubah memanjang. Apabila kawat dipasang lurus antara satu tiang dengan tiang lainnya, ketika pemuaian terjadi memungkinkan adanya konsleting pada listrik. Tentunya hal itu sangat membahayakan.

Ketika suhu tinggi yaitu pada siang hari, kabel listrik dan telepon akan terlihat lebih lurus dibandingkan pada malam hari. Temperatur pada malam hari mengalami penurunan, sehingga ukuran kabel yang tadinya memanjang, kembali menyusut menjadi pendek. Maka akan terlihat seperti kondisi awal saat dipasang yaitu kabel melengkung ke bawah.

  1. Parfum

Parfum adalah pewangi yang sering digunakan dalam bentuk gel atau spray. Keduanya dari zat cair yang kebanyakan mengandung senyawa kimia yaitu alkohol. Botol parfum kerap kali diisi tidak dalam kondisi penuh, sebab pada suhu yang tinggi parfum akan memuai menjadi lebih banyak.

Jika parfum diisi penuh tanpa ruang di dalam botol. Ketika terkena paparan panas, akan menyebabkan botol terisi terlalu penuh. Karena parfum mengalami perisiwa pemuaian.

Parfum mengalami pemuaian dalam kadar tertentu saja, maka dari itu jika sering digunakan parfum akan tetap habis. Pemuaian dari parfum akan berakhir ketika suhu kembali normal atau turun menjadi rendah. Peristiwa tersebut disebut penyusutan pada parfum.

  1. Termometer Air Raksa

Termometer adalah alat untuk mengukur temperatur atau suhu badan pada manusia. Jika dalam kondisi yang tidak sehat, suhu badan cenderung meningkat, ketika itulah termometer biasa digunakan. Termometer terdiri dari banyak jenis, ada dalam bentuk digital atau manual.

Termometer biasa mengandung air raksa di dalamnya sebagai indikator untuk mengukur suhu. Air raksa yang ada di dalam termometer tidak terisi dengan penuh. Karena, ketika mengukur suhu tubuh yang tinggi, air raksa akan memuai. Jika tidak ada ruang bagi air raksa untuk memuai, termometer akan pecah.

Ketika tidak lagi digunakan, kondisi termometer normal akan membuat air raksa kembali menyusut. Peristiwa ini dipengaruhi oleh suhu yang tadinya tinggi karena suhu tubuh lalu menurun ke suhu ruangan biasa.

  1. Agar-agar Buatan

Agar-agar adalah makanan yang biasa digunakan sebagai penutup saat makan. Tekstur agar-agar yang kenyal, awalnya berasal dari zat air yang dimasak. Pada saat dimasak agar-agar mengalami peristiwa pemuaian. Sebab proses memasak yang menggunakan api akan mengubah suhu ruangan menjadi lebih tinggi dan panas.

Ketika agar-agar mulai dingin pada wadah yang sudah ditempatinya, bentuk yang semula banyak menyusut. Ukuran agar menyusut lebih sedikit karena suhu yang tadinya panas berubah menjadi dingin.

  1. Ban Mobil

Ban mobil, motor, atau sepeda terbuat dari bahan karet yang tebal. Di dalam ban biasanya diisi gas agar kendaraan dapat berjalan dengan seimbang. Pengisian gas pada ban harus dilakukan sesuai kebutuhan, tidak terlalu sedikit karena ban akan kempes serta tidak terlalu penuh karena ban akan terasa keras.

Jika gas pada ban diisi terlalu penuh, memungkinkan ban tersebut pecah pada saat suhu tinggi. Karena gas di dalam ban mengalami pemuaian. Maka harus tetap disediakan ruang untuk gas di dalam ban memuai.

Sementara ketika suhu turun, gas pada ban akan kembali normal. Penyusutan ini menyebabkan ukuran zat gas berkurang daripada saat mengalami pemuaian.

  1. Balon Gas

Balon gas adalah balon yang khusus diisi oleh gas, biasanya helium. Seperti pada ban kendaraan, gas yang berada dalam balon akan memuai dan menyebabkan ukuran balon yang terbuat dari karet itu lebih besar. Jika kadar gas yang ada di dalam itu berlebihan, balon akan pecah.

Balon gas dalam fisika juga mengalami penyusutan, udara yang ada di dalam balon akan berkurang ketika suhu menurun. Ukuran balon yang tadinya mengembang akan terlihat mengempis, itulah yang dinamakan peristiwa penyusutan. Zat yang mengalami penyusutan adalah kandungan gas yang terdapat di dalam balon.

Dari contoh-contoh peristiwa di atas dapat disimpulkan bahwa, peristiwa penyusutan dan pemuaian berdasarkan wujud bendanya digolongkan menjadi tiga, yaitu:

  1. Penyusutan dan pemuaian pada zat padat, terjadi pada benda berwujud padat. Ukuran benda berkurang saat penyusutan dan bertambah saat proses pemuaian.
  2. Penyusutan dan pemuaian pada zat cair, terjadi pada benda berwujud cair. Benda yang cair ini bertambah volumenya ketika pemuaian, dan kembali normal ketika penyusutan.
  3. Penyusutan dan pemuaian pada zat gas, terjadi pada benda berwujud gas. Volume zat gas bertambah saat pemuaian dan berkurang saat penyusutan.

Pola yang sama kebanyakan kita temukan pada peristiwa penyusutan dan pemuaian. Hal ini disebabkan karena faktor yang memengaruhi peristiwa penyusutan dan pemuaian adalah suhu. Suhu itu sendiri diartikan sebagai suatu besaran yang biasa diukur dengan derajat. Besaran ini menunjukkan tinggi rendahnya kalor (panas) pada benda.

Sehingga terjadinya peristiwa ini lantaran lingkungan biasanya suhu berubah mengikuti pergantian siang dan malam. Di siang hari, suhu cenderung tinggi, dan menyebabkan sensasi atau rasa panas. Sementara saat malam hari suhu turun dari tinggi ke rendah, menyebabkan sensasi dingin yang dapat dirasakan.

Pemuaian terjadi ketika suhu berubah dari suhu rendah ke suhu tinggi. Maka dapat sisimpulkan pemuaian biasa terjadi pada siang hari. Sedangkan penyusutan terjadi pada malam hari. Yaitu ketika suhu berubah dari suhu tinggi ke suhu rendah.

Itulah penjelasan dan ulasan lengkap yang bisa kami berikan pada segenap pembaca berkaitan dengan contoh-contoh peristiwa penyusutan dan pemuaian yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga memberikan edukasi.

Gambar Gravatar
Niken Triana Putri adalah Salah satu Mahasiswi Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam di Kampus Islam Negeri yang ada di Jakarta. Saat ini selain menyelsaikan tugas akhir juga sibuk menulis di website gurusains.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *