Ciri Tumbuhan Paku dan Lumut Serta Contohnya

Diposting pada

Ciri Tumbuhan Paku dan Lumut

Organisme dalam klasifikasi makhluk hidup pada tumbuhan khususnya kingdom plantae sejatinya terdapat tiga macam. Yakni lumut, paku, dan  biji yang kesemua sangat mudah ditemukan dalam berbagai aktivitas-aktifitas keseharian. Oleh sebab itulah untuk mengulasnya artikel ini memberikan bahasan terkait karakteristik yang ada dalam tumbuhan tersebut.

Tumbuhan Paku dan Lumut

Hakekatnya, tumbuhan paku termasuk de dalam tumbuhan yang berpembuluh. Hal ini karena memiliki pembuluh angkut. Sedangkan untuk tumbuhan lumut sering disebut dengan tumbuhan transisi dari thallophyta dan cormophyta yang memiliki akar, batang, dan daun sejati.

Definisi keduanya, adalah sebaga berikut;

Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku adalah salah satu divisi dari kingdom Plantae yaitu Pteridophyta. Kata pteridophyta berasal dari kata pteron yang artinya sayap dan phiton yang artinya tumbuhan. Daun sejati pada tumbuhan paku melintang lebar seperti sayap, anggota badan lain yang kerap dimiliki adalah, akar serta daun. Pteridophyta merupakan kelompok tumbuhan kormofita atau memiliki kormus berspora.

Tumbuhan Lumut

Lumut merupakan tumbuhan yang hidup di daratan. Tumbuhan lumut bukan termasuk tumbuhan sempurna, maka sulit untuk membedakan bagian akar, batang, dan daun. Lumut juga tidak memiliki pembuluh angkut, jadi termasuk ke dalam tumbuhan non vaskular. Akan tetapi lumut tetap masuk ke dalam kingdom Plantae sebab lumut memiliki klorofil (zat hijau daun).

Ciri Tumbuhan Paku dan Tumbuhan Lumut

Adapun untuk karakteristik keduanya, adalah sebagai berikut;

Tumbuhan Paku dan Contohnya

Penjelasan terkait tumbuhan paku dan contohnya yang mudah ditemukan, antara lain;

  1. Karakteristik Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku memiliki empat struktur penting, yaitu;

  1. Lapisan pelindung
  2. Embrio multiseluler
  3. Kutikula di bagian luar
  4. Sistem pengangkutan internal.

Keempatnya dimiliki oleh paku pada siklus hidupnya, mulai dari embrio menjadi paku muda dan berubah menjadi paku dewasa.

Tumbuhan paku memiliki ukuran yang bermacam-macam. Paku yang terpendek kira-kira berukuran 2 cm pada fase dewasa. Sementara paku dengan ukuran tinggi dapat mencapai kurang lebih 5 meter dengan struktur yang lebih besar dan kokoh.

  1. Struktur dan Fungsi Tubuh

Akar pada tumbuhan paku tersusun serabut yang pada bagian ujungnya dilindungi oleh kaliptra, yaitu sel-sel yang dapat dibedakan dari sel akarnya sendiri. Akar pada tumbuhan paku berperan untuk menyerap mineral dan nutrisi dari tanah untuk selanjutnya disebarkan keseluruh tubuh tumbuhan.

Tumbuhan paku memiliki bagian batang yang tidak tampak karena tertanam di dalam tanah, berupa rimpang. Posisinya bisa sedikit menjalar atau sedikit tegak. Kemungkinan ada batang paku yang muncul di permukaan tanah, akan tetapi ukurannya pendek sekita 0,5 m.

Walaupun demikian, dapat ditemukan tumbuhan paku seperti paku tiang yang tingginya mencapai 5 meter, contohnya dari jenis Alsophilla dan Cyathea. Baik bagian batang maupun akar pada paku memiliki jaringan pengangkut yaitu xilem dan floem yang berfungsi sebagai alat transportasi makanan dan air ke seluruh tubuh tumbuhan paku.

Tumbuhan paku memiliki daun yang unik ketika usia muda, bentuk daun akan melingkar dan menggulung. Sementara ketika dewasa daun akan melintang lebar dengan variasi ukuran yang bermacam-macam.

Bagian daun pada paku tersusun atas epidermis, daging daun, dan tulang daun. Bagian epidermis berperan dalam proses penguapan. Bagian daging daun berperan dalam proses fotosintesis. Bagian tulang daun menopang daging daun yang besar agar dapat tumbuh tegak.

Daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi dua yaitu mikrofil dan makrofil. Mikrofil merupakan daun yang berbentuk kecil seperti rambut atau sisik, bagian mikrofil tidak meiliki tangkai dan juga tidak memiliki daun.

Makrofil merupakan daun yang berbentuk besar. Makrofil telah menunjukkan diferensiasi yang jelas, sehingga dapat dibedakan antara tulang daun, serta cabang-cabangnya. Sel-sel penyusunnya lebih kompleks daripada mikrofil, yaitu terdapat jaringan tiang, jaringan bunga karang, dan stomata.

Struktur tubuh terakhir yang merupakan bagian khas pada paku adalah sorus. Sorus merupakan daun fertil yang juga biasa disebut dengan daun sporofil. Tidak semua daun pada satu tumbuhan paku memiliki sorus, daun yang tidak memiliki sorus disebut dengan daun yang steril.

  1. Daur Hidup

Mengalami pergiliran keturuanan atau metagenesis. Metagenesis tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan generasi gametofit. Morfologi yang tampak pada tumbuhan paku yang sering kita lihat adalah fase sporofit.

Metagenesis pada tumbuhan paku homospora, heterospora, dan paku peralihan memiliki prinsip yang sama. Apabila spora jatuh di tempat yang cocok, spora akan berkembang menjadi protalium (penghasil gamet). Fase tersebut berada pada generasi gametofit yangakan membentuk gamet jantan dan betina.

Ketika spermatozoid bertemu dengan ovum, maka akan terbentuk zigot yang diploid. Zigot kemudian berkembang menjadi tumbuhan paku. Saat paku berkembang, fase gametofit berubah ke fase sporofit yang akan menghasilkan spora untuk proses reproduksi.

  1. Reproduksi

Tumbuhan paku melakukan reproduksi secara aseksual (vegetatif) dan secara seksual (generatif). Reproduksi secara aseksual (vegetatif), yaitu dengan stolon yang kemudian dapat menghasilkan tunas atau gemma. Gemma adalah sebutan untuk anakan yang berada pada tulang daun yang mengandung spora.

Reproduksi secara seksual (generatif), melibatkan sel kelamin jantan dan betina. Sel kelamin jantan disebut anteredium yang menghasilkan spermatozoid. Sedangkan sel kelamin betina disebut dengan arkegonium yang menghasilkan ovum.

  1. Habitat Tumbuhan

Tumbuhan paku dapat ditemukan dalam jenis habitat tumbuhan di air, di tempat-tempat lembab,  menempel pada tumbuhan lain sebagai epifit atau tumbuh pada sisa-sisa tumbuhan sebagai saprofit.

Tumbuhan paku yang tumbuh di daratan, habitatnya berupa dataran rendah, tepi pantai, lereng gunung, dan dataran yang tingginya 350 meter di atas permukaan laut. Kebanyakan paku tumbuh di daerah yang lembab. Akan tetapi beberapa jenis paku dapat tumbuh di daerah ekstrim yang kering dan panas seperti gurun.

Contoh Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku (Pteridophyta) dibagi ke dalam empat kelas, diantarnya:

  1. Paku purba (Psilophytinae), paku jenis ini hampir punah keberadaannya, satu-satunya spesies yang masih adalah Psilotum sp.
  2. Paku kawat (Lycopodiinae), paku kawat memiliki daun dengan ukuran kecil yang tersusun rapi seperti spiral, contoh spesiesnya yaitu Lycopodium sp. dan Selaginella sp.
  3. Paku sejati (Filicinae), paku sejati memiliki ukuran yang besar dengan daun muda yang berbentuk menggulung. Contoh spesiesnya adalah Paku Tiang, dan Paku Tanduk Rusa.
  4. Paku ekor kuda (Equisetinae), paku ini memiliki daun tunggal yang tersusun rapi dengan ukuran yang kecil. Contoh spesiesnya yaitu Calamites dan Equisetum.

Tumbuhan Lumut dan Contohnya

Penjelasan terkait dengan tumbuhan lumut dan contohnya, antara lain;

  1. Karakteristik Tumbuhan Lumut

Lumut umumnya berukuran kecil namun makroskopik, yaitu memiliki tinggi tubuh berkisar 1-2 cm ukuran terkecilnya. Sementara ukuran tertingginya mencapai 40 cm. Tumbuhan memiliki fase dominan gametofit, oleh karena itu morfologi yang terlihat adalah bagian dari generasi gametofit tumbuhan lumut.

  1. Struktur dan Fungsi Tubuh

Lumut memiliki tubuh yang terdiri dari organ-organ mengandung kloroplas. Kloroplas ini mengandung pigmen klorofil yang berguna untuk fotosintesis. Lumut memiliki bagian talus sebagai tempat fotosintesis.

Selain itu bagian daun dan akar pada lumut merupakan bagian yang semu, atau bukan sejati. Karena tidak memiliki pembuluh angkut, tumbuhan lumut memenuhi kebutuhan air dan mineralnya dengan cara difusi. Porses difusi dilakukan oleh seluruh bagian tubuh tumbuhan lumut.

  1. Daur Hidup

Seperti halnya tumbuhan paku, lumut juga melakukan metagenesis yaitu pergantian fase antara sporofit dengan gametofit. Namun fase yang dominan pada tumbuhan lumut adalah gametofit, sementara itu fase sporofit permanen melekat dan bergantung pada fase gametofit.

Pada daur hidup lumut, akan dihasilkan spora yang berasal dari sporofit dan akan berkecambah menjadi protonema. Selanjutnya protonema akan membentuk gametofit yang memiliki satu set kromosom. Fase gametofit tersebut akan menghasilkan organ seks betina dan jantan.

  1. Reproduksi

Lumut berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual berlangsung oleh spora, yang kemudian akan melakukan pembelahan dan tumbuh menjadi protonema. Protonema akan menghasilkan gametofit haploid.

Selanjutnya beralih ke reproduksi seksual, berlangsung karena adanya penggabungan antara organ kelamin jantan dan organ kelamin betina. Proses ini dibantu oleh air yang akan mengarahkan arkegonium berisi spermatozoid menyerbuki ovum.

  1. Habitat Tumbuhan Lumut

Tumbuhan lumut biasa hidup di arti habitat yang lembab. Lumut dapat ditemukan di sela-sela rerumputan, di atas bebatuan, pada tepi-tepi sungai/rawa, di sekitar selokan, dan lain-lain.

Contoh Tumbuhan Lumut

Tumbuhan lumut terbagi ke dalam tiga kelompok, yang diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Lumut hati, berbentuk lembaran yang menempel di atas permukaan tanah, pohon-pohon atau tebing. Disebut lumut hati karena bentuknya yang mirip hati, serta terdapat benyak lekukan.
  2. Lumut daun, merupakan kelas lumut terbesar yang kira-kira mencapai 9.500 spesies. Lumut daun tumbuh di bebatuan, cabang-cabang pohon, bahkan dapat ditemukan di atas pasir.
  3. Lumut tanduk, memiliki bentuk tubuh berupa talus dengan sporofit kapsul memanjang. Lumut tanduk hanya memiliki satu sel kloroplas.

Itulah tadi ulasan lengkap yang bisa kami tuliskan pada segenap pembaca. Berkaitan dengan penjelasan tumbuhan paku dan lumut, ciri, perbedaan, serta contohnya yang mudah ditemukan. Semoga memberikan edukasi serta referensi bagi semuanya.

Gambar Gravatar
Niken Triana Putri adalah Salah satu Mahasiswi Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam di Kampus Islam Negeri yang ada di Jakarta. Saat ini selain menyelsaikan tugas akhir juga sibuk menulis di website gurusains.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *